Cara Menambahkan Video Bertipe AVI Dalam Halaman Web

 

Halo sobat Webhozz berjumpa lagi dengan saya, kali ini saya akan  membagikan artikel mengenai bagaimana caranya untuk memainkan video bertipe avi dalam halaman web? Langsung aja yuk kita ke pembahasannya.

Salah satu plugin yang bisa dipakai memainkan file bertipe seperti AVI yaitu jQuery Media Plugin. Plugin ini tidak hanya bisa dipakai untuk memainkan file video (asx, asf, avi, flv, mov, mpg, mpeg, mp4, qt, ra, smil, swf, wmv, Continue reading

Pengertian Perulangan Foreach dalam PHP

Array merupakan tipe data yang sering digunakan dalam membuat program menggunakan PHP. Kemampuan array dalam menyimpan banyak data dalam satu variabel akan sangat berguna untuk menyederhanakan dan menghemat penggunaan variabel.Untuk menampilkan dan memproses data dari array, kita bisa memanfaatkan perulangan for.
Seperti contoh berikut ini:


<?php

$nama = array("Andri","Joko","Sukma","Rina","Sari"); 
for ($i=0; $i <5; $i++){   
echo "$nama[$i]";   
echo "<br />";}

?>

Contoh diatas membuat perulangan for sebanyak 5 kali, dengan variabel counter $i dimulai dari angka 0 (karena index array dimulai dari angka 0).Namun sebagai cara alternatif untuk menampilkan array, saya akan mengubah kode diatas dengan menggunakan perulangan foreach:


<?php

$nama = array("Andri","Joko","Sukma","Rina","Sari"); 
foreach ($nama as $val){   
echo "$val";   echo "<br />";}

?>

Maka seperti gambar berikut:

foreach1

Perulangan foreach diatas akan menampilkan semua isi array dengan perintah yang lebih singkat daripada menggunakan perulangan for.Cara Penulisan Perulangan Foreach dalam PHP Perulangan foreach merupakan perulangan khusus untuk pembacaan nilai array. Seperti yang telah kita bahas pada tutorial tentang tipe data array: Mengenal Tipe Data Array dan Cara Penulisan Array dalam PHP, setiap array memiliki pasangan key dan value. Key adalah ‘posisi’ dari array, dan value adalah ‘isi’ dari array. Format dasar perulangan foreach adalah:


foreach ($nama_array as $value){    
statement (...$value...)}

$nama_array adalah nama dari array yang telah didefenisikan sebelumnya. $value adalah nama ‘variabel perantara’ yang berisi data array pada perulangan tersebut. Anda bebas memberikan nama untuk variabel perantara ini, walaupun pada umumnya banyak programmer menggunakan $value, atau $val saja. Berikut adalah contoh perulangan foreach sebelumnya:

	

<?php

$nama = array("Andri","Joko","Sukma","Rina","Sari"); 
foreach ($nama as $val){   
echo "$value";   echo "<br />";}

?>

Pada contoh diatas, saya mendefenisikan variabel array $nama dengan format singkat, dan tanpa mendefenisikan key secara tertulis. Variabel $val merupakan variabel perantara dalam contoh diatas. Perulangan tersebut akan diulang sebanyak data yang terdapat di dalam array, sehingga kita tidak perlu harus menghitung seberapa banyak perulangan yang harus dilakukan.Jika anda membutuhkan nilai key dari array untuk dapat diproses, maka PHP menyediakan bentuk kedua dari perulangan foreach, dengan format dasar penulisan sebagai berikut:


foreach ($nama_array as $key => $value){    
statement ($key...$value...)}

Perbedaan dengan format sebelumnya, disini PHP menyediakan variabel perantara kedua, yaitu variabel $key. Variabel $key ini menampung nilai key dari array. Berikut adalah contoh penggunaannya:

<?php

$nama = array(1=>"Andri",6=>"Joko",12=>"Sukma",45=>"Rina",55=>"Sari"); 
foreach ($nama as $kunci =>$isi){   
echo "Urutan ke-$kunci adalah $isi";   
echo "<br />";}
?>

Maka seperti gambar berikut:

foreach

Variabel array $nama saya defenisikan menggunakan key yang berbeda-beda. Pada perulangan foreach, saya membuat variabel perantara $kunci =>$isi, sehingga didalam perulangan, variabel $kunci akan berisi key dari array, dan variabel $isi akan berisi nilai dari array.Proses menampilkan dan memproses array akan lebih mudah dengan menggunakan perulangan foreach dibandingkan perulangan dasar seperti for. Terlebih lagi kita tidak perlu mencari tau seberapa banyak perulangan harus dilakukan, karena perulangan foreach akan otomatis berhenti pada data terakhir dari array.

Cara Pengecekan Tipe Data Argumen Fungsi

Fungsi-fungsi diatas dapat dimanfaatkan untuk pengecekan tipe data suatu variabel, dan tentu saja juga argumen fungsi. Agar lebih mudah dipahami, saya telah merancang fungsi pangkat() yang berfungsi untuk melakukan pemangkatan bilangan.

Fungsi pangkat() saya rancang dengan 2 buah inputan atau parameter.
Parameter pertama adalah angka yang akan dihitung, dan parameter
kedua adalah nilai pangkatnya.
pangkat(2,3) berarti 2 pangkat 3. pangkat(2,8) berarti 2 pangkat 8.
Kedua parameter ini harus berupa angka, dan khusus untuk nilai pangkat,
harus berupa angka bulat (integer).

Berikut adalah kode program fungsi pangkat():


<?php
function pangkat($nilai, $pangkat)
{
   if (is_numeric($nilai) AND is_int($pangkat)) 
//pengecekan tipe data argumen
   {
      //Jika argumen sesuai, maka jalankan proses fungsi
       $hasil=1;
       for ($i=1;$i<=$pangkat;$i++)
       {
         $hasil=$hasil*$nilai;
        }
       return $hasil;
    }
    else
    { 

//Bagian ini akan dijalankan jika tipe data argumen bukan angka
       return "Tipe data argumen harus berupa angka";
    }
}
 
//Test beberapa kasus inputan untuk fungsi pangkat()

echo pangkat(5,2);
echo "<br />";
echo pangkat(5.6,2);
echo "<br />";
echo pangkat(2,8);
echo "<br />";
echo pangkat(5,2.9);
echo "<br />";
echo pangkat("lima",2);
echo "<br />";
?>

Fungsi pangkat() diatas terasa sedikit panjang, namun jika anda telah
mengikuti seluruh tutorial PHP di duniailkom, maka fungsi tersebut tidak
akan terlalu sulit untuk dipahami.

Fungsi pangkat() saya rancang untuk menghitung pangkat dari sebuah angka.
Variabel $nilai dan $pangkat adalah parameter yang akan menjadi variabel perantara.

Pada baris ke-4 saya membuat pengecekan masing-masing parameter di dalam logika IF. Fungsi is_numeric() dan is_int() akan menghasilkan nilai TRUE jika keduanya benar, sehingga saya menggabungkan keduanya kedalam logika AND. Seandainya logika AND ini salah, maka kondisi IF akan bernilai FALSE, dan bagian ELSE akan dijalankan (baris ke-13), dimana saya membuat kalimat “Tipe data argumen harus berupa angka” untuk memberitahu pengguna fungsi bahwa tipe argumennya harus berupa angka.

Jika kedua kondisi is_numeric() dan is_int() benar, maka saya membuat proses perulangan for untuk mencari hasil pemangkatan. Setelah hasilnya ditemukan, perintah return akan mengembalikan nilai tersebut (baris ke-11).

Dari hasil pemanggilan fungsi, kita dapat melihat bahwa logika alur program sudah berjalan benar, dan jika saya memberikan nilai argumen yang salah, hasil yang ditampilkan bukan kode error PHP, melainkan pesan kesalahan yang lebih informatif. Dengan menggunakan fungsi seperti is_numeric() dan is_int() kita dapat melakukan pengecekan
tipe data terlebih dahulu sebelum melakukan proses fungsi. Hal ini akan menghindari error program PHP, dan memberikan fleksibilitas untuk melakukan tindakan pencegahan jika tipe data yang diinput bukan yang seharusnya.

Pengertian dan Jenis-jenis Operator Increment dan Decrement PHP

Operator Increment dan Decrement adalah operator yang mempersingkat pembuatan kode program. Dalam tutorial kali ini kita akan membahas Pengertian, Jenis-jenis serta cara penggunaan Operator Increment dan Decrement dalam PHP.
Pengertian Operator Increment dan Decrement PHP

Operator Increment dan Decrement adalah penyebutan untuk operasi sepert $a++, dan $a–. Jika anda telah mempelajari bahasa pemograman lain, operasi increment dan decrement ini sering digunakan dalam perulangan (looping).

Increment digunakan untuk menambah variabel sebanyak 1 angka, sedangkan decrement digunakan untuk mengurangi variabel sebanyak 1 angka. Penulisannya menggunakan tanda tambah 2 kali untuk increment, dan tanda kurang 2 kali untuk decrement. Penempatan tanda tambah atau kurang ini boleh diwal, atau diakhir variabel, namun keduanya memiliki perbedaan, sehingga terdapat 4 jenis increment dan decrement dalam PHP.
Dari tabel diatas terlihat bahwa terdapat 2 jenis increment, yaitu Pre-increment, dan Post-Increment, dan 2 jenis decrement, yaitu Pre-decrement dan Post-decrement. Perbedaan keduanya terletak pada posisi mana tanda tambah atau kurang diletakkan.
Cara Penggunaan Operator Increment dan Decrement

Untuk memahami cara penggunaan operator increment dan decrement, berikut contoh kode program PHP:

<?php
echo "

<h3>Postincrement</h3>


";
$a = 5;
echo "\$a = $a 
";
echo "\$a akan bernilai 5: " . $a++ . " (\$a++)
";
echo "\$a akan bernilai 6: " . $a . "
";
   
echo "

<h3>Preincrement</h3>


";
$a = 5;
echo "\$a = $a 
";
echo "\$a akan bernilai 6: " . ++$a . " (++\$a)
";
echo "\$a akan bernilai 6: " . $a . "
";
   
echo "

<h3>Postdecrement</h3>


";
$a = 5;
echo "\$a = $a 
";
echo "\$a akan bernilai 5: " . $a-- . " (\$a--)
";
echo "\$a akan bernilai 4: " . $a . "
";
   
echo "

<h3>Predecrement</h3>


";
$a = 5;
echo "\$a = $a 
";
echo "\$a akan bernilai 4: " . --$a . " (--\$a)
";
echo "\$a akan bernilai 4: " . $a . "
";
?>

Contoh kode program diatas terlihat agak rumit, namun sebagian besar hanyalah pengaturan format agar hasilnya tampil rapi seperti berikut ini:

Tutorial PHP – Contoh Operator Increment dan Decrement dalam PHP
Terlihat bahwa Post-increment ($a++), akan memberikan hasilnya dulu, baru menambahkan nilai variabel $a sebanyak 1 angka, namun dengan Pre-increment, $a akan ditambahkan 1 angka, baru nilainya ditampilkan. Begitu juga hal nya dengan operasi Post-decrement dan Pre-decrement.

Dalam tutorial PHP kali ini kita telah membahas tentang operator Increment dan Decrement dalam PHP dan perbedaan Post-Increment dan Pre-Increment. Memahami perbedaan ini akan memudahkan kita dalam menulis dan menghindari penulisan kode program yang tidak diinginkan.

Cara Mengubah Tipe Data PHP (Type Juggling dan Type Casting)

Pengertian Type Juggling dalam PHP

PHP merupakan bahasa pemograman yang tidak terlalu ketat dalam aturan tipe data (dimana sebuah variabel dapat diisi dengan berbagai tipe data). Hal ini memberikan kemudahan penulisan, namun juga mendatangkan permasalahan tersendiri. Terkadang PHP mengubah tipe data suatu variabel menjadi tipe data lainnya secara tidak langsung tanpa kita instruksikan.

Jika anda telah mengikuti tutorial PHP di duniailkom tentang pembahasan tipe data dan operator, maka beberapa kali kita telah membuat kode program yang “memaksa” suatu tipe data berfungsi sebagai tipe data lainnya.

Perhatikan kode program php berikut:

Dalam kode diatas, saya mendefenisikan variabel $a sebagai integer (angka) dan variabel $b sebagai string. Operasi penambahan seharusnya membutuhkan 2 inputan berupa angka, namun seperti yang terlihat ketika program dijalankan, PHP dengan senang hati akan menjalankan perintah tersebut tanpa mengeluarkan error. 12+”9 kucing” akan menghasilkan nilai 21.

Proses perubahan tipe data ini dikenal dengan istilah type juggling. Type Juggling dalam PHP adalah sebuah proses untuk menentukan jenis tipe data yang “cocok” dengan operasi saat itu, dan PHP akan menkonversinya secara langsung.

PHP akan mencoba “menebak” dan mengubah tipe data agar disesuaikan dengan peruntukannya. Misalkan operator aritmatika seharusnya membutuhkan 2 buah inputan (atau operand) yang bertipe angka (baik berupa integer maupun float). Namun apabila salah satu atau kedua operand itu bukan bertipe angka, maka PHP akan mengkonversinya menjadi angka.

Seperti contoh program diatas, string “9 kucing” akan dikonversi menjadi angka. Dan menghasilkan angka 24 (aturan pengkonversian ini akan kita bahas sesaat lagi).

Sebagai contoh lainnya, perhatikan kode PHP berikut ini:

<?php
   $a=12;
   $b="9 kucing";
   echo $a AND $b;
?>

Nilai dari variabel $a dan $b masih sama dengan contoh saya yang pertama, namun kali ini saya membuat operator logika AND sebagai operasi yang akan diproses. Dan jika anda menjalankan program diatas, di browser akan tampil angka 1. Dari manakah angka 1 ini berasal?

Operator AND membutuhkan 2 inputan bertipe boolean, yakni nilai TRUE atau FALSE. Namun karena saya menggunakan tipe integer “12” dan type string “9 kucing”, maka kedua operand ini akan dikonversi menjadi TRUE. Karena TRUE AND TRUE adalah TRUE, maka hasil $a AND $b pada contoh program diatas adalah TRUE.

Namun proses type juggling PHP belum selesai, karena perintah echo membutuhkan inputan berupa string, bukan nilai boolean TRUE. Dan PHP akan mengkonversi boolean TRUE menjadi string “1”.

Pemahaman tentang type juggling dalam PHP ini akan membantu kita untuk menghindari error kode program karena perubahan tipe data yang tidak terdeteksi.

Pengertian Struktur ELSE dalam PHP

Jika Struktur IF digunakan untuk percabangan alur program dengan 1 pilihan saja, maka dengan struktur ELSE kita dapat membuat percabangan kedua, yakni percabangan ketika kondisi IF tidak terpenuhi, atau expressi IF menghasilkan nilai FALSE.

Berikut adalah contoh penggunaan logika ELSE dalam PHP:

<?php
$nama="Andi";
 
if ($nama=="Andi")
   echo "Selamat Datang Andi...";
else
   echo "Selamat Datang di duniailkom";
?>

Contoh kode program diatas, hampir sama dengan contoh kita pada tutorial tentang IF sebelumnya. Namun kali ini saya menambahkan percabangan ELSE. Jika anda menjalankan kode program diatas, maka di dalam web browser akan tampil “Selamat Datang Andi…“, karena kondisi IF terpenuhi. Perintah ELSE hanya akan dijalankan jika kondisi $nama bukan berisi “ANDI”.

Jika saya mengubah kode PHP diatas menjadi

<?php
$nama="Budi";
 
if ($nama=="Andi")
   echo "Selamat Datang Andi...";
else
   echo "Selamat Datang di duniailkom";
?>

Maka sekarang di web browser akan tampil “Selamat Datang di duniailkom“. Hal ini terjadi karena kondisi if ($nama==”Andi”) tidak terpenuhi dan menghasilkan FALSE, sehingga perintah di bagian ELSE-lah yang akan diekseskusi.
Aturan Penulisan Struktur IF-ELSE dalam PHP

Penulisan sederhana dari struktur IF-ELSE adalah sebagai berikut:

<?php
if (expression)
   statement1;
else
   statement2;
?>

Statement1 akan dijalankan hanya jika expression bernilai TRUE (kondisi expression terpenuhi). Namun apabila kondisi expression tidak terpenuhi (bernilai FALSE), maka statement2 lah yang akan dijalankan.

Jika struktur logika IF-ELSE terdiri dari beberapa baris, maka kita harus menambahkan penanda kurung kurawal untuk menandai awal dan akhir statement. Penanda ini dibutuhkan untuk membatasi blok perintah mana yang akan dijalankan ketika expression TRUE, dan blok perintah mana yang akan dijalankan jika expression FALSE.

Berikut adalah penulisan dasar struktur IF-ELSE dengan pembatasan blok perintah:

<?php
if (expression) 
{
   statement1;
   statement1;
}
else
{
   statement2;
   statement1;
}
?>

Penandaan statement ini akan menghasilkan error ketika kita salah atau lupa menempatkan tanda kurung kurawal. Perhatikan contoh kode PHP berikut ini:

<?php
$nama="Budi";
 
if ($nama=="Andi")
   echo "Selamat Datang Andi...";
   echo "Anda Memiliki 3 pesan di inbox...";
else
   echo "Maaf, anda tidak memiliki hak akses";
?>

Kode PHP diatas akan menghasilkan error, karena PHP mendeteksi ada lebih dari satu baris setelah struktur IF. Kode tersebut akan berjalan seperti yang diinginkan jika dirubah menjadi:

<?php
$nama="Budi";
 
if ($nama=="Andi") 
{
   echo "Selamat Datang Andi...";
   echo "Anda Memiliki 3 pesan di inbox...";
}
else
{
   echo "Maaf, anda tidak memiliki hak akses";
}
?>

Pada baris terakhir, saya juga menambahkan tanda kurung kurawal sebagai penanda awal dan akhir dari ELSE, walaupun tanda kurung tersebut sebenranya tidak diperlukan (karena hanya bersisi satu baris). Namun hal ini akan memudahkan kita seandainya ingin menambahkan perintah tambahan pada bagian ELSE.
Cara Penulisan Alternatif Struktur ELSE

Sama seperti alternatif penulisan IF pada tutorial sebelumnya,selain menggunakan tanda kurung kurawal penanda awal dan akhir blok IF, PHP juga menyediakan cara penulisan lain untuk blok perintah ELSE, yaitu diawali dengan tanda titik dua (:) dan diakhiri dengan endif.

Berikut adalah format dasar penulisan IF:

<?php
if (expression) :
   statement1;
   statement2;
else:
   statement3;
endif
?>

Perbedaan mendasar tentang cara penulisan ini ada di setelah penulisan expression dimana dibutuhkan tanda titik dua (:), dan di akhir statement dengan kata kunci endif.

Anda bebas menggunakan format penulisan logika IF yang disediakan. Beberapa programmer memilih alternatif penulisan IF dengan endif karena dianggap lebih rapi.

Dalam tutorial struktur alur program berikutnya, kita akan membahas struktur lanjutan dari IF, yakni cara penulisan dan penggunaan struktur ELSE-IF.

Pengertian Struktur ELSE-IF dalam PHP

Pengertian Struktur ELSE-IF dalam PHP

Stuktur ELSE-IF merupakan percabangan logika lanjutan dari IF. Dengan ELSE-IF kita bisa membuat kode program yang akan menyeleksi berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Berikut adalah contoh penggunaan ELSE-IF dalam PHP:

	
<?php
$a=15;
$b=8;
 
if ($a > $b) 
{
    echo "a lebih besar daripada b";
} 
elseif ($a == $b) 
{
    echo "a sama besar dengan b";
} 
else
{
    echo "a lebih kecil daripada b";
}
?>

Dalam kode program diatas, saya membuat program sederhana untuk membandingkan 2 angka. IF pertama akan melakukan pengecekan apakah $a > $b, jika hasilnya adalah FALSE, maka masuk ke IF kedua (ditulis dengan elseif) apakah $a == $b, dan jika hasilnya adalah FALSE, maka dapat dipastikan $a $b), dan kita ingin program PHP keluar dari IF. Namun karena perintah selanjutnya adalah IF, maka PHP akan tetap memeriksa apakah ($a == $b).

Lain halnya jika kita menggunakan perintah ELSEIF, maka ketika sebuah kondisi telah dipenuhi, PHP tidak perlu melakukan pengecekan terhadap kondisi IF lainnya.
Aturan Penulisan Struktur ELSE-IF dalam PHP

Dalam PHP, kita bisa menuliskan struktur ELSE-IF dengan elseif, atau else if (dipisahkan dengan spasi). Kedua bentuk ini dianggap sama.

Format dasar penulisan ELSE-IF adalah sebagai berikut:

<?php
if (expression) 
{
   statement1;
}
elseif
{
   statement2;
}
else
{
   statement3;
}
?>

Seberapa banyak struktur ELSE-IF di dalam kode program tidak dibatasi, namun jika anda ada dalam situasi yang membutuhkan percabangan ELSE IF yang lebih dari 5, mungkin anda bisa memecah nya menjadi bagian-bagian kecil agar memudahkan alur logika program.
Cara Penulisan Alternatif Struktur ELSE-IF

Selain menggunakan tanda kurung kurawal sebagai tanda awal dan akhir ELSE-IF, PHP menyediakan cara penulisan alternatif. Berikut format dasar penulisannya:

<?php
if (expression) :
   statement1;
   statement2;
elseif (expression):
   statement3;
else
   statement4;
endif
?>

Namun untuk cara penulisan ini, kita tidak bisa memisahkan penulisan ELSE-IF menjadi “else if”, tetapi harus ditulis menyatu menjadi “elseif”.

<?php
$a=15;
$b=8;
 
if ($a > $b):
    echo "a lebih besar daripada b";
else if ($a == $b):  // akan menghasilkan error
    echo "a sama besar dengan b";
else:
    echo "a lebih kecil daripada b";
endif;
?>

Kode program diatas baru berhasil dieksekusi jika diubah menjadi:

	
<?php
$a=15;
$b=8;
 
if ($a > $b):
    echo "a lebih besar daripada b";
elseif ($a == $b):
    echo "a sama besar dengan b";
else:
    echo "a lebih kecil daripada b";
endif;
?>

StrukurIF-ELSE-IF ini merupakan salah satu struktur terpenting dalam pemograman, dengan struktur IF kita bisa membuat alur percabangan program tergantung dengan situasi yang dihadapi.

Pengertian dan Cara Penulisan Struktur Logika Switch dalam PHP

Struktur logika switch adalah sebuah stuktur percabangan yang akan memeriksa suatu variabel,
lalu menjalankan perintah-perintah yang sesuai dengan kondisi yang mungkin terjadi untuk variabel tersebut
. Struktur switch ini mirip dengan struktur IF yang ditulis berulang.

Katakan kita ingin membuat sebuah program yang akan menampilkan kata dari angka 0-5,
sehingga terdapat 6 kemungkinan yang terjadi. Jika menggunakan struktur IF,
maka kita akan membutuhkan 6 perulangan sebagai berikut:

	
<?php
$a=3;
if ($a=="0") {
    echo "Angka Nol";
    }
elseif ($a=="1") {
    echo "Angka Satu";
    }
elseif ($a=="2") {
    echo "Angka Dua";
    }
elseif ($a=="3") {
    echo "Angka Tiga";
    }
elseif ($a=="4") {
    echo "Angka Empat";
    }
elseif ($a=="5") {
    echo "Angka Lima";
    }
else
    echo "Angka diluar jangkauan";
?>

Tidak ada yang salah dari kode program tersebut, namun jika kita menggunakan switch, kode tersebut dapat ditulis menjadi:

<?php
$a=3;
switch ($a)
{
case 0 :
    echo "Angka Nol";
    break;
case 1 :
    echo "Angka Satu";
    break;
case 2 :
    echo "Angka Dua";
    break;
case 3 :
    echo "Angka Tiga";
    break;
case 4 :
    echo "Angka Empat";
    break;
case 5 :
    echo "Angka Lima";
    break;
default :
    echo "Angka diluar jangkauan";
    break;
}
?>

Kedua kode program akan menghasilkan output yang sama, namun untuk kondisi logika yang diuji merupakan kondisi sederhana, penulisan dengan switch lebih disarankan dibandingkan IF.
Aturan Penulisan Struktur Switch dalam PHP

Seperti yang terlihat dalam contoh sebelumnya, struktur switch terdiri dari beberapa bagian, berikut format dasar penulisan switch dalam PHP:

switch ($var) 
{
case value1:
   statement1;
   break;
case value2:
   statement2;
   break;
}

Setelah kata kunci switch, kita harus mencantumkan variabel yang akan diperiksa nilainya didalam tanda kurung, lalu memulai block switch dengan kurung kurawal.

Tiap kondisi yang mungkin terjadi dicantumkan setelah kata kunci case, lalu diikuti dengan nilai yang akan dibandingkan dengan nilai variabel switch. Jika kondisi sesuai, maka baris program statement akan dijalankan. Kata kunci break digunakan untuk keluar dari switch, sehingga PHP tidak perlu memeriksa case berikutnya.

Alur program untuk switch akan dieksekusi dari baris pertama sampai terakhir. Kata kunci break memegang peranan penting untuk menghentikan switch.

Perhatikan contoh kode PHP berikut:

<?php
$a=1;
switch ($a)
{
case 0:
    echo "Angka Nol ";
case 1 :
    echo "Angka Satu ";
case 2 :
    echo "Angka Dua ";
case 3 :
    echo "Angka Tiga ";
}
?>

Program diatas akan memeriksa nilai dari $a, dan memberikan output tergantung kepada nilai $a tersebut. Jika sekilas dilihat, maka keluaran program adalah: “Angka Satu” sesuai dengan nilai variabel $a. Akan tetapi, jika anda menjalankan program diatas, PHP akan memberikan output berupa:
Angka Satu Angka Dua Angka Tiga

Apa yang terjadi? Hal ini terkait dengan bagaimana PHP menjalankan proses switch.

Ketika program dijalankan, PHP pertama kali akan memeriksa case 0, yaitu apakah $a sama dengan 0, jika tidak, PHP akan lanjut ke case 1, dan memeriksa apakah $a sama dengan 1. Jika iya, maka PHP akan menjalankan echo “Angka Satu”, beserta seluruh perintah program pada case-case dibawahnya. Hal ini mungkin terkesan aneh, namun adakalanya proses seperti inilah yang dibutuhkan.

Namun, untuk kasus diatas, kita ingin mengistruksikan kepada PHP bahwa setelah case ditemukan, maka switch harus berhenti.

Untuk instruksi ini, kita harus menggunakan kata kunci break. Instruksi break memberitahu PHP untuk segera keluar dari switch, dan tidak menjalankan case lainnya.

Berikut adalah kode program switch kita setelah ditambahnya keyword break:

<?php
$a=1;
switch ($a)
{
case 0:
    echo "Angka Nol ";
    break;
case 1 :
    echo "Angka Satu ";
    break;
case 2 :
    echo "Angka Dua ";
    break;
case 3 :
    echo "Angka Tiga ";
    break;
}
?>

Selain kata kunci break, PHP menyediakan kata kunci default untuk alur switch. Kata kunci ini berfungsi seperti ELSE di dalam struktur IF, yakni kondisi dimana seluruh case untuk switch tidak ada yang cocok. Kata kunci default ini diletakkan di akhir dari switch.

Untuk contoh kita diatas, saya akan menambahkan bagian default sebagai perintah yang akan dijalankan jika nilai dari variabel $a duluar dari angka 0-5. Berikut kode PHP nya:

<?php
$a=9;
switch ($a)
{
case 0:
    echo "Angka Nol ";
    break;
case 1 :
    echo "Angka Satu ";
    break;
case 2 :
    echo "Angka Dua ";
    break;
case 3 :
    echo "Angka Tiga ";
    break;
default :
    echo "Angka diluar jangkauan";
    break;
}
?>

PHP membolehkan kita menjalankan satu statement saja untuk case yang berlainan, seperti contoh kode PHP berikut ini:

<?php
$a=3;
switch ($a)
{
case 0 :
case 1 :
case 2 :
case 3 :
    echo "Angka berada di dalam range 0-3";
    break;
case 4 :
case 5 :
case 6 :
case 7 :
    echo "Angka berada di dalam range 4-7";
    break;
default :
    echo "Angka diluar jangkauan";
    break;
}
?>

Didalam kode diatas, saya menyatukan beberapa case ke dalam 1 statement.

Penulisan case untuk struktur switch menyesuaikan dengan jenis tipe data yang akan diuji. Sampai dengan bagian ini, saya hanya menggunakan contoh case untuk variabel dengan tipe angka, namun jika anda menggunakan switch untuk tipe data string, maka kita harus menggunakan tanda kutip untuk case.

Berikut contoh kode switch PHP untuk tipe data string:

	
<?php
$a=dua;
switch ($a)
{
case "nol":
    echo "Angka 0 ";
    break;
case "satu" :
    echo "Angka 1 ";
    break;
case "dua" :
    echo "Angka 2 ";
    break;
case "tiga" :
    echo "Angka 3 ";
    break;
default :
    echo "Angka diluar jangkauan";
    break;
}
?>

Perbedaan Antara struktur IF dengan Switch

Walaupun memiliki tujuan yang hampir sama, namun struktur IF dan switch memiliki perbedaan yang mendasar.

Didalam struktur switch, kondisi logika hanya akan diperiksa satu kali saja, yaitu pada awal perintah switch, dan hasilnya di bandingkan dengan setiap case. Akan tetapi di dalam struktur if, setiap kondisi akan selalu diperiksa. Sehingga jika anda memiliki struktur percabangan yang banyak, struktur switch akan lebih cepat dieksekusi.

Namun disisi lain, switch memiliki keterbatasan dalam jenis operasi perbandingan yang dapat dilakukan. Operasi perbandingan di dalam switch terbatas untuk hal-hal sederhana seperti memeriksa nilai dari sebuah variabel.

Struktur switch tidak bisa digunakan untuk percabangan program dengan operasi yang lebih rumit seperti membandingkan 2 variabel. Kita tidak bisa menggunakan switch untuk membuat kode program menentukan nilai terbesar seperti contoh pada tuturial IF sebelum ini.

Untuk kebanyakan kasus, kita akan sering menggunakan IF dibandingkan switch.