9 Framework Mobile App Terpopuler 2023

Framework mobile adalah seperangkat alat, perpustakaan, dan pedoman yang dirancang untuk memfasilitasi dan mempercepat pengembangan aplikasi mobile. Framework ini menyediakan struktur dan abstraksi yang dapat membantu developer dalam proses pembuatan aplikasi, sehingga mereka tidak perlu memulai dari awal setiap kali membuat aplikasi baru. Beberapa fungsi dari framework mobile antara lain :

  1. Framework mobile menyediakan struktur kerja yang sudah siap pakai, termasuk perpustakaan, alat bantu, dan template, yang dapat mempercepat proses pengembangan. Hal ini memungkinkan developer untuk fokus pada pengembangan fungsionalitas khusus aplikasi tanpa harus memulai dari awal.
  2. Dengan menyediakan perpustakaan dan modul yang dapat digunakan kembali, framework mobile memungkinkan developer untuk menghemat waktu dan upaya dengan menggunakan kembali kode yang sudah ada. Ini terutama berguna ketika mengembangkan aplikasi untuk berbagai platform.
  3. Framework mobile menyediakan lapisan abstraksi untuk berinteraksi dengan perangkat keras dan sistem operasi. Hal ini memungkinkan developer untuk menulis kode yang dapat berjalan di berbagai perangkat dan platform tanpa perlu memahami detail teknis setiap perangkat.
  4. Banyak framework mobile menyediakan alat untuk membangun dan mengelola antarmuka pengguna (UI) aplikasi. Ini termasuk widget, komponen, dan gaya bawaan yang memudahkan desain UI yang responsif dan menarik.
  5. Framework mobile seringkali menyediakan alat dan pola desain untuk memudahkan manajemen dan penyimpanan data. Ini mencakup akses ke database, pemrosesan data, dan sinkronisasi data dengan server.
  6. Dengan menyediakan struktur yang terorganisir dan standar pengkodean, framework mobile dapat menyederhanakan pemeliharaan kode. Perbaikan bug, peningkatan fungsionalitas, dan pengembangan lebih lanjut dapat dilakukan dengan lebih mudah.
  7. Beberapa framework mobile dirancang untuk mendukung pengembangan aplikasi yang dapat berjalan di berbagai platform, seperti iOS dan Android. Ini memungkinkan developer untuk menggunakan sebagian besar kode yang sama untuk kedua platform tersebut.
  8. Framework mobile dapat menyertakan fitur keamanan bawaan atau pedoman keamanan untuk membantu melindungi aplikasi dari ancaman keamanan seperti injeksi kode, serangan XSS, atau ancaman keamanan lainnya.
  9. Banyak framework mobile memiliki komunitas yang aktif, serta dukungan dokumentasi dan forum online. Ini memberikan sumber daya tambahan bagi developer, memudahkan mereka dalam mengatasi masalah, bertukar informasi, dan mendapatkan bantuan.

1. Flutter

Flutter adalah sebuah framework open-source yang dikembangkan oleh Google untuk membangun antarmuka pengguna (UI) aplikasi seluler. Flutter memungkinkan developer untuk membuat aplikasi yang berjalan di berbagai platform, termasuk iOS, Android, dan web, dengan menggunakan satu basis kode. Dart adalah bahasa pemrograman yang digunakan dalam pengembangan dengan Flutter.

Kelebihan :

  1. Seperti React Native, salah satu keunggulan utama Flutter adalah kemampuannya untuk menggunakan satu basis kode untuk mengembangkan aplikasi untuk berbagai platform. Hal ini mempermudah developer untuk membuat dan memelihara aplikasi tanpa harus menulis ulang kode untuk setiap platform.
  2. Flutter memiliki antarmuka pengguna yang kaya dan ekspresif, karena menggunakan widget sebagai komponen dasar. Anda dapat dengan mudah membuat UI yang menarik dan dinamis.
  3. Aplikasi yang dikembangkan dengan Flutter memiliki kinerja yang tinggi karena Flutter menggunakan kompilasi ahead-of-time (AOT) untuk menghasilkan kode mesin langsung. Ini membantu dalam mengurangi waktu pemuatan dan meningkatkan kinerja aplikasi.
  4. Flutter memiliki fitur hot reload yang memungkinkan developer melihat perubahan secara langsung tanpa perlu mengulang proses build dari awal. Hal ini mempercepat siklus pengembangan.
  5. Komunitas Flutter terus berkembang dan aktif. Dukungan dari komunitas ini menyediakan sumber daya tambahan, paket, dan solusi untuk membantu pengembangan.

Kekurangan :

  1. Aplikasi yang dikembangkan dengan Flutter memiliki ukuran yang cenderung lebih besar dibandingkan dengan aplikasi native karena perlu menyertakan mesin Flutter (runtime) dalam distribusi aplikasi.
  2. Meskipun Flutter memiliki banyak paket dan plugin yang dapat digunakan, beberapa modul atau pustaka pihak ketiga mungkin belum sepenuhnya tersedia atau mendukung Flutter.
  3. Meskipun Flutter semakin populer, masih ada kecenderungan bahwa beberapa perusahaan dan developer lebih memilih teknologi yang sudah mapan seperti React Native atau pengembangan native.
  4. Beberapa fitur atau fungsionalitas mungkin tidak sepenuhnya terintegrasi dengan cara yang sama seperti dalam pengembangan aplikasi native.

2. React Native

React_Native_Logo.png (1409×267)

React Native adalah sebuah framework open-source yang dikembangkan oleh Facebook untuk membangun aplikasi mobile menggunakan JavaScript dan React. Dengan React Native, Anda dapat mengembangkan aplikasi mobile yang dapat berjalan di platform iOS dan Android dengan menggunakan satu basis kode sumber. React Native memungkinkan developer untuk menggunakan pengetahuan mereka tentang React (sebuah pustaka JavaScript untuk membangun antarmuka pengguna) untuk mengembangkan aplikasi mobile.

Kelebihan :

  1. Salah satu keunggulan utama React Native adalah konsep “write once, run anywhere.” Artinya, Anda dapat menggunakan satu basis kode untuk mengembangkan aplikasi untuk kedua platform, iOS dan Android. Hal ini dapat menghemat waktu dan usaha dalam pengembangan.
  2. React Native memungkinkan pembaruan langsung pada aplikasi tanpa memerlukan pembaruan melalui App Store atau Google Play. Hal ini memudahkan developer untuk memperbarui aplikasi dengan cepat dan mengimplementasikan perubahan.
  3. React Native memiliki komunitas developer yang besar dan aktif. Ini berarti ada banyak dukungan, modul, dan sumber daya yang tersedia untuk membantu Anda dalam pengembangan aplikasi.
  4. Aplikasi yang dikembangkan dengan React Native memiliki kinerja yang serupa dengan aplikasi native karena komponen utamanya dijalankan menggunakan kode native.
  5. Dengan menggunakan JavaScript, pengembangan dengan React Native bisa lebih cepat dibandingkan dengan pengembangan aplikasi native karena developer dapat menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki tentang React.

Kekurangan :

  1. Meskipun React Native menyediakan banyak API perangkat bawaan, terkadang developer memerlukan akses ke fitur perangkat khusus yang belum didukung oleh React Native.
  2. Untuk beberapa kasus, mungkin Anda perlu menggunakan modul pihak ketiga. Ketergantungan pada pihak ketiga dapat menimbulkan risiko jika modul tersebut tidak lagi didukung atau dijaga.
  3. Beberapa fitur atau fungsionalitas mungkin tidak sepenuhnya terintegrasi dengan cara yang sama seperti dalam pengembangan aplikasi native.
  4. Aplikasi yang dikembangkan dengan React Native dapat memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan aplikasi native karena perlu menyertakan runtime React Native.
  5. Untuk aplikasi yang sangat kompleks atau membutuhkan performa tinggi, ada kemungkinan bahwa React Native mungkin tidak seoptimal pengembangan aplikasi native murni.

3. Ionic

1280px-Ionic_Logo.svg.png (1280×432)

Ionic adalah sebuah framework open-source untuk membangun aplikasi mobile dan aplikasi web progresif (progressive web apps – PWA). Ionic menggunakan HTML, CSS, dan JavaScript untuk mengembangkan aplikasi, dan sering kali bekerja sama dengan Angular (sebuah kerangka kerja JavaScript) untuk membangun antarmuka pengguna.

Kelebihan :

  1. Ionic memungkinkan pengembangan cepat karena menggunakan teknologi web standar seperti HTML, CSS, dan JavaScript. Ini memungkinkan developer web untuk mentransisi ke pengembangan aplikasi mobile dengan lebih mudah.
  2. Seperti React Native dan Flutter, Ionic juga mendukung konsep “write once, run anywhere.” Developer dapat menggunakan satu basis kode untuk mengembangkan aplikasi yang dapat berjalan di berbagai platform.
  3. Aplikasi yang dikembangkan dengan Ionic dapat digunakan sebagai aplikasi web progresif (PWA). Ini memungkinkan pengguna untuk mengakses aplikasi melalui browser web tanpa harus mengunduh aplikasi secara khusus.
  4. Ionic memiliki komunitas yang besar dan aktif. Dukungan dari komunitas ini menyediakan sumber daya tambahan, modul, dan solusi untuk membantu pengembangan.
  5. Dengan menggunakan PWA, Ionic memungkinkan pembaruan langsung pada aplikasi tanpa perlu melewati toko aplikasi. Hal ini memudahkan developer untuk memperbarui aplikasi dengan cepat.

Kekurangan :

  1. Aplikasi Ionic sering menggunakan WebView sebagai kontainer untuk menjalankan kode HTML, CSS, dan JavaScript. Hal ini dapat mempengaruhi kinerja aplikasi dibandingkan dengan aplikasi native.
  2. Meskipun Ionic menyediakan akses ke beberapa API perangkat, terkadang developer membutuhkan akses ke fitur perangkat yang lebih mendalam, yang mungkin tidak sepenuhnya didukung oleh Ionic.
  3. Untuk beberapa fitur, mungkin Anda perlu menggunakan plugin pihak ketiga. Bergantung pada plugin eksternal dapat menimbulkan risiko jika plugin tersebut tidak lagi didukung atau dijaga.
  4. Karena menggunakan WebView, kinerja aplikasi Ionic mungkin tidak seoptimal aplikasi native, terutama untuk aplikasi yang memerlukan kinerja tinggi atau akses ke fitur perangkat tertentu.
  5. Meskipun Ionic memungkinkan pengembangan cepat dan penggunaan kode sumber satu, pengalaman pengguna mungkin tidak sebaik aplikasi yang dikembangkan secara khusus untuk platform tertentu.

4. Xamarin

Xamarin adalah sebuah platform pengembangan perangkat lunak yang memungkinkan developer untuk membuat aplikasi mobile lintas platform menggunakan bahasa pemrograman C#. Xamarin memungkinkan developer untuk berbagi sebagian besar basis kode sumber antara aplikasi Android dan iOS, sehingga mempercepat proses pengembangan.

Kelebihan :

  1. Xamarin memungkinkan developer untuk menggunakan satu basis kode sumber dalam bahasa C# untuk mengembangkan aplikasi untuk berbagai platform, termasuk Android dan iOS. Ini dapat mempercepat siklus pengembangan dan meminimalkan kerumitan.
  2. Xamarin memberikan akses penuh ke API perangkat, memungkinkan developer untuk menggunakan semua fitur dan fungsionalitas perangkat secara langsung.
  3. Aplikasi Xamarin memiliki kinerja yang mendekati aplikasi native karena menggunakan pemanggilan langsung ke API perangkat, menghindari lapisan abstraksi yang dapat mempengaruhi kinerja.
  4. Xamarin mendukung fitur hot reload yang memungkinkan developer untuk melihat perubahan secara langsung tanpa perlu melakukan proses kompilasi dari awal.
  5. Xamarin memiliki integrasi yang kuat dengan teknologi Microsoft, seperti Visual Studio, dan dapat memanfaatkan ekosistem .NET, termasuk bibliotek dan alat pengembangan.

Kekurangan :

  1. Aplikasi Xamarin mungkin memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan aplikasi native karena perlu menyertakan runtime Xamarin.
  2. Beberapa fitur atau fungsi platform mungkin tidak sepenuhnya didukung oleh Xamarin, dan untuk mengaksesnya, developer mungkin perlu menggunakan kode khusus untuk setiap platform.
  3. Meskipun Xamarin memiliki komunitas yang cukup aktif, ukurannya mungkin tidak sebesar komunitas beberapa framework atau platform lainnya seperti React Native atau Flutter.
  4. Developer yang tidak familiar dengan bahasa pemrograman C# mungkin perlu mempelajarinya terlebih dahulu sebelum dapat menggunakan Xamarin secara efektif.
  5. Proses kompilasi pada Xamarin dapat memakan waktu lebih lama dibandingkan dengan beberapa teknologi pengembangan lainnya.

5. Native Script

9a1375f8-native-script.png (600×315)

NativeScript adalah sebuah framework open-source yang digunakan untuk mengembangkan aplikasi mobile lintas platform dengan menggunakan JavaScript, TypeScript, atau Angular. NativeScript memungkinkan developer untuk membuat aplikasi native untuk Android dan iOS dengan menggunakan satu basis kode sumber.

Kelebihan :

  1. NativeScript memberikan akses langsung ke API perangkat dan memungkinkan developer untuk menggunakan semua fitur dan fungsionalitas perangkat secara langsung.
  2. Aplikasi yang dikembangkan dengan NativeScript memiliki kinerja yang mendekati aplikasi native karena tidak menggunakan WebView. NativeScript menggunakan pemanggilan langsung ke API perangkat.
  3. Developer dapat menggunakan satu basis kode sumber untuk mengembangkan aplikasi yang berjalan di kedua platform, Android dan iOS. Hal ini dapat mengurangi waktu dan upaya pengembangan.
  4. NativeScript memiliki integrasi yang kuat dengan JavaScript, TypeScript, dan Angular. Ini memudahkan developer yang sudah terbiasa dengan teknologi ini untuk beralih ke pengembangan aplikasi mobile.
  5. NativeScript mendukung penggunaan plugin dan modul pihak ketiga, memungkinkan developer untuk memperluas fungsionalitas aplikasi mereka dengan mudah.

Kekurangan :

  1. Meskipun komunitas NativeScript tumbuh, ukurannya masih lebih kecil dibandingkan dengan beberapa framework lain seperti React Native atau Flutter. Ini dapat mempengaruhi ketersediaan sumber daya dan dukungan.
  2. Seiring pertumbuhan proyek, kompleksitas kode dan manajemen proyek dapat meningkat. Developer perlu memperhatikan desain arsitektur dan pengelolaan kode dengan hati-hati.
  3. NativeScript tidak memiliki editor What You See Is What You Get (WYSIWYG) yang kuat, yang dapat membuat beberapa developer merasa kesulitan dalam merancang antarmuka pengguna.
  4. Seperti halnya dengan beberapa framework pengembangan lainnya, proses kompilasi pada NativeScript bisa memakan waktu lama, terutama seiring dengan bertambahnya ukuran proyek.

6. Apache Cordova

cordova_logo_normal_dark_large.png (1120×500)

Apache Cordova, sebelumnya dikenal sebagai PhoneGap, adalah framework open-source yang memungkinkan developer untuk membuat aplikasi mobile menggunakan teknologi web standar seperti HTML, CSS, dan JavaScript. Cordova memfasilitasi pembuatan aplikasi yang dapat dijalankan di berbagai platform, termasuk Android, iOS, Windows, dan lainnya, dengan menggunakan satu basis kode.

Kelebihan :

  1. Cordova memungkinkan developer untuk menggunakan satu basis kode sumber untuk mengembangkan aplikasi mobile lintas platform. Ini dapat mengurangi waktu dan upaya dalam pengembangan.
  2. Pengembangan dengan Cordova memanfaatkan pengetahuan web standar seperti HTML, CSS, dan JavaScript. Ini memungkinkan developer web untuk memasuki dunia pengembangan aplikasi mobile tanpa harus mempelajari bahasa pemrograman atau teknologi baru.
  3. Cordova memberikan akses ke API perangkat, memungkinkan developer untuk menggunakan fitur-fitur perangkat seperti kamera, geolokasi, sensor, dan lainnya dalam aplikasi mereka.
  4. Cordova memiliki komunitas yang luas dan aktif, yang berarti terdapat banyak sumber daya, tutorial, dan plugin pihak ketiga yang dapat membantu dalam pengembangan aplikasi.
  5. Cordova mendukung penggunaan plugin pihak ketiga, yang memungkinkan developer untuk menambahkan fungsionalitas tambahan ke aplikasi mereka dengan mudah.

Kekurangan :

  1. Aplikasi Cordova menggunakan WebView untuk menampilkan antarmuka pengguna, yang dapat mempengaruhi kinerja aplikasi dibandingkan dengan aplikasi native yang menggunakan komponen UI native.
  2. Pengalaman pengguna mungkin tidak sebaik aplikasi native karena beberapa elemen antarmuka pengguna dapat terasa kurang alami atau kurang responsif.
  3. Bergantung pada plugin pihak ketiga dapat menimbulkan risiko jika plugin tersebut tidak lagi didukung atau dijaga.
  4. Beberapa fitur atau fungsionalitas platform mungkin tidak sepenuhnya didukung oleh Cordova, dan untuk mengaksesnya, developer mungkin perlu menulis kode khusus untuk setiap platform.
  5. Aplikasi Cordova mungkin memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan aplikasi native karena perlu menyertakan runtime Cordova.

7. Framework7

Framework7 adalah sebuah framework UI mobile dan web open-source yang ditujukan untuk membangun aplikasi mobile dan web yang memiliki tampilan dan nuansa mirip dengan aplikasi native. Framework7 menggunakan HTML, CSS, dan JavaScript untuk membangun antarmuka pengguna yang responsif dan atraktif. Meskipun awalnya dirancang khusus untuk aplikasi iOS, Framework7 juga mendukung aplikasi Android dan dapat digunakan untuk pengembangan web secara umum.

Kelebihan :

  1. Framework7 dirancang untuk memberikan tampilan dan nuansa seperti aplikasi native, memberikan pengalaman pengguna yang akrab dan responsif.
  2. Framework7 dirancang untuk ringan dan cepat, dengan fokus pada kinerja optimal. Ini memastikan bahwa aplikasi yang dibangun dengan Framework7 dapat berjalan dengan lancar di berbagai perangkat.
  3. Framework7 mendukung integrasi dengan Vue.js dan React, memberikan fleksibilitas tambahan kepada developer yang telah terbiasa dengan kerangka kerja tersebut.
  4. Framework7 mendukung pengembangan Aplikasi Web Progresif (PWA), memungkinkan aplikasi untuk diakses melalui browser dan memiliki fungsionalitas offline.
  5. Framework7 menyediakan banyak komponen UI siap pakai, seperti navbar, panel, toolbar, tabbar, dan lainnya, memudahkan developer untuk membangun antarmuka pengguna yang kompleks dengan cepat.

Kekurangan :

  1. Meskipun Framework7 dapat digunakan untuk mengembangkan aplikasi Android, fokus awalnya adalah pada desain mirip iOS. Ini mungkin membuat aplikasi yang dibangun dengan Framework7 kurang konsisten secara visual di platform Android.
  2. Pengembangan dengan Framework7 bergantung pada JavaScript. Bagi developer yang lebih terbiasa dengan teknologi web tradisional, seperti HTML dan CSS, mungkin memerlukan waktu untuk beradaptasi.
  3. Komunitas Framework7 lebih kecil dibandingkan dengan beberapa framework populer lainnya seperti React Native atau Flutter. Ini dapat berdampak pada ketersediaan sumber daya dan dukungan.
  4. Meskipun Framework7 memiliki basis pengguna yang setia, itu belum mencapai tingkat popularitas yang sama dengan beberapa framework pesaingnya.
  5. Framework7 terutama cocok untuk proyek-proyek yang membutuhkan tampilan dan nuansa aplikasi native. Untuk jenis proyek tertentu, seperti aplikasi yang memerlukan desain yang sangat khusus, mungkin ada framework lain yang lebih sesuai.

8. Onsen UI

onsen.png (667×350)

Onsen UI adalah sebuah framework open-source untuk membangun antarmuka pengguna (UI) aplikasi mobile dan web menggunakan HTML, CSS, dan JavaScript. Onsen UI dirancang untuk memberikan pengalaman pengguna yang mirip dengan aplikasi native, dan dapat digunakan dengan berbagai kerangka kerja JavaScript, seperti Angular, React, atau Vue.

Kelebihan :

  1. Onsen UI menawarkan komponen-komponen UI yang dirancang untuk menciptakan tampilan dan nuansa seperti aplikasi native, memberikan pengalaman pengguna yang akrab dan responsif.
  2. Onsen UI mendukung integrasi dengan berbagai kerangka kerja JavaScript seperti Angular, React, dan Vue, memberikan fleksibilitas tambahan kepada developer yang sudah terbiasa dengan kerangka kerja tersebut.
  3. Onsen UI menyediakan berbagai komponen UI siap pakai, seperti tabbar, navigation drawer, list, form elements, dan lainnya. Ini memudahkan developer untuk membangun antarmuka pengguna yang kompleks dan estetis.
  4. Onsen UI mendukung pengembangan Aplikasi Web Progresif (PWA), memungkinkan aplikasi untuk diakses melalui browser dan memberikan fungsionalitas offline.
  5. Onsen UI memiliki dokumentasi yang baik dan menyediakan tutorial serta contoh kode yang membantu developer untuk memahami dan menggunakan framework ini.

Kekurangan :

  1. Meskipun Onsen UI memiliki komunitas yang aktif, ukurannya mungkin tidak sebesar komunitas beberapa framework pesaingnya seperti React Native atau Flutter.
  2. Onsen UI dapat menjadi lebih sulit untuk digunakan dalam proyek-proyek yang sangat kompleks atau memerlukan kustomisasi tingkat lanjut, dibandingkan dengan beberapa framework yang lebih canggih.
  3. Meskipun Onsen UI menyediakan tampilan mirip aplikasi native, terkadang penyesuaian gaya atau desain dapat terbatas dalam tingkat tertentu.
  4. Onsen UI secara default cenderung mengikuti desain Material, yang merupakan gaya desain yang sering kali dikaitkan dengan platform Android. Hal ini dapat membuat aplikasi yang dibangun dengan Onsen UI kurang konsisten secara visual di platform iOS.
  5. Onsen UI belum mencapai tingkat popularitas yang sama dengan beberapa framework UI mobile lainnya seperti React Native atau Flutter.

9. Swift UI

1*6GoXl-gbW5tNuckXmPgOmA.png (1200×630)

SwiftUI adalah framework pengembangan antarmuka pengguna (UI) yang dikembangkan oleh Apple untuk membuat aplikasi dengan menggunakan bahasa pemrograman Swift. SwiftUI menyediakan cara deklaratif untuk mendefinisikan antarmuka pengguna, memungkinkan developer untuk merinci bagaimana antarmuka pengguna harus terlihat dan berperilaku.

Kelebihan :

  1. SwiftUI menggunakan paradigma deklaratif, yang memungkinkan developer mendeskripsikan antarmuka pengguna secara langsung. Ini membuat kode lebih ringkas dan mudah dipahami.
  2. SwiftUI dilengkapi dengan Live Preview, yang memungkinkan developer melihat perubahan langsung pada antarmuka pengguna saat mereka menulis kode. Hal ini mempercepat siklus pengembangan.
  3. SwiftUI mendukung pengembangan aplikasi untuk berbagai platform Apple, termasuk iOS, macOS, watchOS, dan tvOS, dengan menggunakan satu basis kode. Ini memudahkan developer untuk membuat aplikasi lintas platform.
  4. SwiftUI merupakan bagian integral dari ekosistem pengembangan Swift, sehingga memungkinkan developer untuk menggunakan fitur-fitur bahasa Swift, seperti tipe data yang kuat, protokol, dan lainnya.
  5. SwiftUI memiliki kemampuan built-in untuk mengelola perubahan dalam state aplikasi dan secara otomatis memperbarui tampilan ketika state berubah. Hal ini mengurangi boilerplate code dan membuat pengembangan lebih efisien.

Kekurangan :

  1. SwiftUI memerlukan iOS 13 atau versi macOS Catalina (10.15) ke atas. Oleh karena itu, aplikasi yang menggunakan SwiftUI tidak dapat berjalan pada versi sistem operasi yang lebih lama.
  2. Meskipun SwiftUI telah membuat kemajuan signifikan sejak diperkenalkan, beberapa fitur atau kontrol mungkin belum seutuhnya matang atau tidak sepenuhnya setara dengan UIKit/AppKit yang lebih mapan.
  3. Beberapa fitur atau fungsionalitas mungkin belum sepenuhnya terdukung oleh SwiftUI, dan dalam beberapa kasus, developer mungkin perlu turun ke UIKit atau AppKit untuk mencapai hasil tertentu.
  4. Beberapa pengaturan tampilan mungkin tidak sefleksibel atau tidak sekuat yang dapat dicapai dengan menggunakan UIKit atau AppKit secara langsung.
  5. SwiftUI memperkenalkan paradigma pengembangan yang berbeda dibandingkan dengan UIKit atau AppKit, sehingga memerlukan pembelajaran baru bagi developer yang sudah terbiasa dengan teknologi sebelumnya.

10. Sencha

sencha-logo-v1.png (450×186)

Sencha adalah perusahaan pengembangan perangkat lunak yang menghasilkan sejumlah kerangka kerja dan alat untuk pengembangan aplikasi web dan mobile. Salah satu kerangka kerja terkenal yang dimilikinya adalah Sencha Ext JS, yang digunakan untuk membangun antarmuka pengguna (UI) aplikasi web yang kaya dan kompleks.

Kelebihan :

  1. Sencha Framework, terutama Sencha Ext JS, menyediakan komponen-komponen UI yang kaya dan siap pakai. Ini termasuk grid, formulir, panel, dan berbagai elemen UI lainnya, memudahkan developer dalam membangun antarmuka pengguna yang kompleks.
  2. Aplikasi yang dibangun dengan Sencha Framework secara otomatis responsif dan dapat disesuaikan dengan ukuran layar perangkat, memastikan pengalaman pengguna yang baik di berbagai perangkat.
  3. Sencha Framework mendukung pola arsitektur pengembangan Model-View-Controller (MVC) dan Model-View-ViewModel (MVVM), memisahkan tata letak aplikasi dan logika bisnis. Ini memungkinkan pengembangan dengan cepat dan pemeliharaan yang efisien.
  4. Sencha menyediakan alat pengembangan seperti Sencha Architect yang memfasilitasi pengembangan dan desain antarmuka pengguna melalui antarmuka grafis. Ini dapat meningkatkan produktivitas developer.
  5. Framework ini dirancang untuk berjalan di berbagai browser, memastikan bahwa aplikasi yang dibangun dengan Sencha dapat beroperasi konsisten di berbagai lingkungan.

Kekurangan :

  1. Produk utama Sencha, seperti Sencha Ext JS, bersifat berbayar. Biaya lisensi mungkin menjadi faktor pembatas, terutama untuk proyek-proyek dengan anggaran terbatas.
  2. Sencha Framework mungkin memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, terutama untuk developer yang belum terbiasa dengan konsep dan pola arsitektur yang digunakan oleh framework ini.
  3. Meskipun menyediakan komponen-komponen UI siap pakai, kustomisasi yang diperlukan untuk mendapatkan tampilan dan perilaku yang diinginkan mungkin kompleks dan memerlukan pemahaman yang mendalam tentang framework.
  4. Aplikasi yang dibangun dengan Sencha Framework dapat memiliki ukuran yang relatif besar, yang dapat mempengaruhi waktu unduh dan kinerja aplikasi, terutama pada koneksi internet yang lambat.
  5. Beberapa fitur di Sencha Ext JS memerlukan server untuk menjalankan, yang dapat menambah kompleksitas dan persyaratan infrastruktur pada sisi server.

Pemilihan framework bergantung pada kebutuhan proyek, keahlian tim pengembangan, dan preferensi tertentu. Jadi itulah beberapa framework yang berguna untuk aplikasi mobile.